Dalam panggung kehidupan ini, manusia bisa mencintai apa saja. Dan sebuah hukum alam yang tak terbantahkan adalah: di atas apa yang dicintainya itulah, poros kehidupannya akan berputar.

Ada manusia yang mencintai hal-hal penuh makna, sehingga roda kehidupannya bergulir menebar keberkahan dan manfaat bagi sesama. Namun sebaliknya, tidak sedikit yang menggantungkan hatinya pada hal-hal fana dan semu, sehingga hidupnya berakhir dalam kesia-siaan, bahkan kebinasaan.

Fenomena “Cinta Buta” pada Kesia-siaan di Era Modern

Di zaman modern ini, kita kerap disuguhkan fenomena kegilaan manusia terhadap sesuatu yang fana. Banyak orang rela menghabiskan energi, waktu, dan harta untuk memuja figur selebritis. Mereka berteriak histeris, menulis poster memohon untuk dinikahi, hingga merelakan kehormatannya hanya demi mendapat pengakuan dari sang idola di media sosial.

Kegandrungan ini tidak hanya pada figur manusia. Ada yang menghabiskan ratusan juta untuk terbang ke luar negeri hanya demi melengkapi koleksi merchandise permainan fiktif, mainan robot, hingga berburu pakaian bekas artis idolanya yang harganya melonjak gila-gilaan hanya karena “belum dicuci dan masih menyimpan bau keringat asli” sang artis.

Pernahkah kita merenung, untuk apa semua pengerahan sumber daya yang luar biasa besar ini? Semua kesia-siaan tersebut kelak pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat. Apalagi jika pelakunya adalah seorang Muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dengan tegas tentang tujuan eksistensi kita:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Cinta kepada Allah: Poros Kehidupan Hakiki Seorang Muslim

Lantas, di atas fondasi apakah seharusnya roda kehidupan seorang Muslim berputar? Al-Qur’an menjawabnya dengan lugas: Cinta kepada Allah. Inilah pembeda utama antara seorang mukmin dengan mereka yang menyekutukan Tuhan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 165: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah…”

Namun, sebuah pertanyaan besar sering kali muncul: Apakah sebenarnya makna mencintai Allah itu? Bagaimana cara kita membedakan antara cinta sejati dan pengakuan cinta yang palsu?

Memahami Makna “Al-Hubb” (Cinta)

Dalam bahasa Arab, cinta disebut dengan kata Al-Hubb. Kitab Madarijus Salikin (Juz III) menjelaskan bahwa al-hubb berakar dari lima makna dasar yang sangat mendalam:

  1. Sesuatu yang putih dan bersih.
  2. Sesuatu yang tinggi dan tampak kokoh.
  3. Keteguhan dan komitmen yang kuat.
  4. Inti atau lubuk hati yang terdalam.
  5. Menjaga dan menahan diri (dari hal yang dibenci kekasihnya).

Jika kelima makna ini digabungkan, tergambarlah wujud cinta sejati. Maka, sungguh sebuah kebohongan besar jika seseorang mengaku memiliki cinta kepada Allah namun ia masih gemar melakukan maksiat. Pecinta sejati pasti memiliki komitmen yang teguh untuk menjaga dirinya dari apa pun yang dibenci oleh Dzat yang dicintainya.

Tanda Cinta dan Cara Meraihnya

Ketika cinta kepada Allah telah bersemayam di lubuk hati terdalam, iman akan otomatis menjadi poros hidupnya. Ia tidak lagi disetir oleh selera hawa nafsu. Saat ia tidur, bangun, beribadah, hingga bermuamalah (berbisnis/bekerja), semuanya akan ditimbang menggunakan kacamata syariat Allah.

Akan tetapi, cinta kepada Allah bukanlah sesuatu yang turun dari langit begitu saja. Ia harus diperjuangkan dengan segenap kesungguhan.

Ahmad bin Abil Hawari, seorang ulama zahid, pernah menyampaikan pesan yang sangat menggugah: “Tanda mencintai Allah adalah mencintai ketaatan kepada Allah. Seorang hamba tidak akan mampu mencintai Allah sebelum permulaan cinta itu datang dari Allah (berupa taufik). Dan hal itu terjadi ketika Allah mengetahui kesungguhan hamba tersebut dalam meraih ridha-Nya.”

Dicintai Allah Lebih Utama Daripada Sekadar Mencintai

Kunci utama untuk meraih cinta-Nya adalah pembuktian lewat ketaatan. Syah al-Karmani menegaskan bahwa bukti kejujuran harapan seseorang kepada Allah adalah terlihat dari seberapa baik ketaatannya. Siapa yang malas dan tidak serius menaati perintah-Nya, berarti ia tidak serius mengharapkan cinta-Nya.

Seorang ahli hikmah memberikan konklusi yang sangat indah untuk kita renungkan hari ini:

“Yang menjadi urusanmu sebenarnya bukanlah bagaimana agar engkau mencintai (Allah), akan tetapi bagaimana agar engkau DICINTAI (oleh Allah).”

Cinta Allah adalah sebuah karunia agung; sebuah hadiah yang diberikan atas keringat dan kerja keras seorang hamba dalam mengejar ridha-Nya. Maka, mari kita terus bersungguh-sungguh dalam ketaatan, hingga benih-benih cinta itu ditumbuhkan-Nya di dalam dada kita. Karena di atas poros cinta itulah, hidup kita akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Disadur dan dikembangkan dari tulisan Ust. M. Alimin Mukhtar (Pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang)