Pernahkah Anda merasa urat syaraf menegang karena anak tiba-tiba membangkang? Padahal, rasanya kita sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan aturan main kepada mereka. Tidak sedikit orang tua yang sampai menitikkan air mata karena merasa sang buah hati tak kunjung mengerti, meski sudah dimarahi atau bahkan dihukum.
Ketegangan emosi ini biasanya akan melonjak drastis saat kita berada di ruang publik; seperti sedang berbelanja di supermarket, perjalanan jauh, atau yang paling sering: saat ada tamu datang ke rumah.
Semenjak menginjak usia dua tahun, anak-anak seolah memiliki “radar” yang tahu bahwa dalam situasi tersebut, kendali orang tua melemah. Mereka sadar bahwa ibu tidak akan berteriak marah, dan ayah tidak mungkin menghukum mereka di hadapan orang lain. Anak-anak tahu betul bahwa orang tuanya sering kali tak berdaya dan terpaksa mengalah selama tamu masih duduk di ruang tamu.
Mengenal Fase “The Terrible Twos”
Memasuki usia dua tahun, anak memang mengalami perubahan psikologis yang drastis. Para ahli psikologi perkembangan menyebut fase usia dua hingga empat tahun ini sebagai the terrible twos (usia dua tahun yang mengerikan).
Anak yang semula begitu penurut, tenang, dan menggemaskan, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang tegang, menunjukkan ego “keakuan”, dan mulai suka melawan untuk mengatur lingkungannya. Di fase inilah mereka sangat haus akan perhatian dan ingin selalu dilibatkan. Itulah alasan utama mengapa anak sering bertingkah heboh dan rewel.
Lantas, mengapa tingkah heboh ini makin memuncak saat ada tamu? Setidaknya ada dua alasan utama:
1. Haus Validasi dan Penerimaan dari Orang Lain
Anak ingin mendapat perhatian dari tamu yang datang. Tingkahnya akan semakin menjadi-jadi bila ia merasa keberadaannya tidak dianggap. Terkadang anak sudah berlari ke depan pintu, tersenyum, atau bertanya nama sang tamu, namun tamu tersebut (atau bahkan kita sendiri) mengabaikannya. Penolakan halus ini membuat anak berontak mencari cara lain agar diperhatikan.
2. Merasa Kehilangan Sosok Orang Tua
Sebelum usia dua tahun, saat tamu datang, orang tua selalu memamerkan kelucuan anak dan melibatkannya dalam obrolan. Namun, saat mereka makin besar, kita mulai mengabaikan atau bahkan menyuruhnya masuk kamar agar tidak mengganggu obrolan. Rasa “kehilangan perhatian” inilah yang memicu anak bertingkah mencari gara-gara.
Solusinya: Anak cenderung lebih kooperatif jika kita mau menyapa dan memperkenalkannya kepada tamu (satu atau dua menit saja) sebelum kita larut dalam obrolan dewasa. Berikan mereka pengertian sebelumnya tentang siapa yang akan datang dan apa keperluannya.
Bahaya Meredam Tantrum Anak Demi “Menjaga Nama Baik”
Ada sebuah kesalahan fatal yang kerap tidak disadari oleh para orang tua. Saat anak merengek meminta sesuatu (misalnya meminta es krim atau mainan), kita sering menolaknya dengan alasan klasik: “Ibu/Ayah tidak punya uang.”
Namun, ketika sang anak mulai menangis meronta-ronta di hadapan tamu, orang tua mendadak panik karena malu. Demi membungkam mulut anak dan menjaga gengsi di depan tamu, tiba-tiba saja uang itu keluar dari dompet. Anak memang akan seketika terdiam, tapi sadarkah Anda? Di detik itu juga, anak baru saja mempelajari empat pelajaran berbahaya:
- Anak Belajar Bahwa Orang Tuanya Pembohong. Bukankah tadi ibu/ayah bilang tidak punya uang? Kenapa sekarang tiba-tiba ada?
- Anak Belajar Memaksa dengan Kekerasan. Anak merekam pengalaman berharga: jika meminta baik-baik tidak dituruti, maka ia harus menangis, berteriak, dan mengamuk agar keinginannya terkabul.
- Anak Belajar Mempermalukan Orang Tua. Anak menemukan “senjata rahasia” bahwa orang tuanya sangat takut kehilangan muka. Kelak, ia akan menggunakan senjata mempermalukan orang tua di depan umum ini untuk menekan Anda.
- Anak Belajar Krisis Kepercayaan. Anak tidak akan lagi mempercayai perkataan Anda. Alasan “tidak ada uang” hanyalah pelarian termudah bagi orang tua yang malas berpikir jernih untuk memberikan alasan yang lebih edukatif.
Qaulan Sadida: Mengasuh dengan Perkataan yang Benar
Islam sangat memperhatikan bagaimana kita bertutur kata kepada anak. Menipu anak kecil, meski dengan dalih menenangkannya, sangat dilarang dalam agama. Mari kita renungkan wasiat agung dari Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida (perkataan yang benar).” (QS. An-Nisaa’: 9)
Masya Allah! Terlihat sepele, namun akibat yang ditimbulkan dari kata-kata kebohongan yang salah sungguh luar biasa panjang. Berawal dari hilangnya kesabaran (isti’jal), kita justru menanamkan duri pada karakter anak. Hanya karena malu di depan tamu yang mungkin tidak terlalu kita kenal, kita menggadaikan kepercayaan anak kita sendiri.
Penulis terkenal Amerika, Bob Greene, dalam artikelnya “What Words Can Do”, menuliskan kesimpulan yang menohok: “Terkadang, bahkan sesuatu (kata) yang paling sederhana pun membawa akibat yang akan bertahan selama-lamanya.”
Agaknya, kita perlu membenahi kembali kelapangan jiwa dan lisan kita. Sungguh, pada lisan orang tua, terletak surga dan neraka bagi pembentukan karakter anak-anak kita.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membaguskan akhlak kita, keluarga, dan keturunan kita. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kekhilafan kita dalam mendidik, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi penolong agama-Nya. Allahumma amin.
Abz